Singaraja – Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kegawatdaruratan di kawasan wisata melalui program Safe Community Tourism. Kegiatan yang digelar pada 19 Juli 2026 itu melibatkan 32 peserta. Peserta berasal dari unsur aparat desa, pelaku pariwisata, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan pemuda desa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kapasitas warga dalam aspek keselamatan dan kesehatan wisata sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan Desa Wisata Sembiran.
Menghadirkan tiga pemateri dari bidang yang berbeda, yakni I Kadek Artawan, I Dewa Agung Gde Fanji Pradiptha, dan Komang Kurniawan Widiartha memberikan wawasan yang berbeda diantaranya Bantuan Hidup Dasar (BHD), penanganan gigitan ular, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), serta pemanfaatan aplikasi digital dalam mendukung tata kelola desa wisata.
“Kemampuan masyarakat dalam memberikan pertolongan awal menjadi salah satu komponen penting dalam membangun destinasi wisata yang aman,” ujar I Kadek Artawan. Hal tersebut terutama relevan bagi Desa Sembiran yang memiliki karakteristik wilayah berbukit serta sejumlah aktivitas wisata berbasis alam dan jalur trekking.
Sementara itu, I Dewa Agung Gde Fanji Pradiptha memberikan materi mengenai penanganan gigitan ular dan P3K. Materi tersebut diberikan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan pelaku wisata dalam memberikan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan maupun kondisi darurat di lingkungan wisata.
Selain aspek keselamatan, kegiatan ini juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan desa wisata. Komang Kurniawan Widiartha memperkenalkan aplikasi digital “Sadar Wisata” yang dirancang untuk membantu penyampaian informasi, promosi potensi wisata, serta mendukung pengelolaan destinasi secara lebih terintegrasi.
Penguatan kapasitas masyarakat dan digitalisasi diharapkan dapat mendukung pengembangan Desa Sembiran sebagai destinasi wisata yang tidak hanya memiliki daya tarik, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi risiko keselamatan dan kesehatan wisatawan. Konsep Safe Community Tourism juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam membangun budaya sadar wisata sebagai pelaku utama pariwisata. Pendekatan ini sejalan dengan penerapan prinsip Sapta Pesona, khususnya dalam menciptakan lingkungan wisata yang aman, tertib, bersih, nyaman, dan memberikan pengalaman positif bagi wisatawan.
Melalui program ini, masyarakat Desa Sembiran diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pengembangan pariwisata, tetapi juga berperan dalam menjaga keselamatan di destinasi wisata. Peningkatan kompetensi masyarakat dalam pertolongan pertama, kesiapsiagaan kegawatdaruratan, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata berbasis masyarakat yang aman dan berkelanjutan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendapat dukungan dari DPPM Saintekdikti, LPPM Undiksha, dan Pemerintah Desa Sembiran. (Red_FK)








